July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

August 06, 2007

Chip in Me?? No Way!!

Chip Nonton berita di Metro TV kemaren siang bikin gue kayak di tampar dengan kata-kata “GET REAL!!!!”. Sebuah berita yang cukup singkat, tapi cukup membuat gue terbengong-bengong lumayan lama. Beritanya mengenai sebuah night club di Barcelona sana, yang menawarkan penanaman id chip ke dalam lengan para member VIP nya. Jadi untuk masuk, makan dan minum di dalam club itu para member VIP itu need no cash at all. Cukup scan lengan kanan!!! *busyeeeet* Bahkan di berita Metro TV itu cukup jelas dengan juga menunjukan proses gimana implanted itu id chip secara real ke dalam lengan si member VIP (dokter sih yang doing that thing…). Bagian yang paling bikin gue tercengang adalah wawancara dengan si pemilik night club itu dimana si empunya itu dengan santai bilang “this kind of technology will be very common in next 10 or 20 years later”. *gubraks*

Sempet mention “kereeeeen…” pada waktu gue nonton berita itu, dan merasa serem di akhir berita. Bener-bener shock ma pernyataan “this kind of technology will be very common in next 10 or 20 years later”.

Gue terus ngebayangin dunia gue sekarang, dimana orang-orang nya sudah sangat kecanduan tekhnolgi digital (soooooo hi-tech!!!!) sehingga produk-produk digital itu sudah menjadi bagian dari tubuh manusia itu sendiri. Merasa tidak berdaya tanpa handphone, kecanduan blackberry, membawa kamera digital dan storage device kemana-mana seperti flash disk yang menyimpan kehidupan digitalnya, menyimpan semua koleksi musik dalam iPod.
Bahkan mungkin storage drive dan MP3 player bisa dirancang dengan model jewellery supaya menarik untuk dipakai sebagai kalung dan anting-anting. Sekarang aja, tekhnologi wireless bluetooth memungkinkan jaket dan kacamata berfungsi ganda sebagai peralatan elektronik juga.
*hmmm remind me of someone… yaitu………… gue sendiri!!!! Wakakakakaka*

Aaaargggh..
Bisa bayangin dunia kayak gitu…?
Jadi inget sama sebuah serial tv yang dulu suka banget gue tonton, dimana semua tawanan dipasangin barcode di leher belakang sehingga ngga bisa lari kemana-mana karena sangat mudah dilacak (lupa gue judul nya apa…. Ada yang masih inget??).

Implant chip ke dalam tubuh manusia ternyata emang bukan berita baru. Di Amerika Serikat, Food and Drug Administration pada tahun 2004 mengizinkan sebuah perusahaan di Florida Verichip, untuk menanam chip RFID (Radio-frequency Identification) ke dalam tubuh manusia sebagai alat pencatat informasi medis. Informasinya sendiri sih ngga disimpan dalam chip melainkan dalam database komputer yang dapat diakses rumah sakit dengan men-scan pasien yang memiliki chip di dalam kulitnya. Dalam 3 tahun terakhir, Verichip telah melakukan implantasi pada lebih dari 2000 orang di seluruh dunia. Chip perusahaan ini telah  menjadi teknologi yang sudah dipatenkan dan dipatok harga $200 per-chip.

Di website thinkgeek.com malah dijual kit mainan untuk RFID buat kita yang ingin coba-coba. Harganya kurang lebih $100. Di dalam kit itu dikasih sample chip kecil sebesar biji beras yang benar-benar berfungsi dan bisa diprogram melalui komputer dan dibaca oleh RFID reader.

Cuma, kebayang ngga sih looo… kalau suatu hari nanti di masing-masing tubuh kita akan ditanam chip kecil yang tujuannya sebagai identitas diri. Then, apa beda nya kita ma robot kalo udah begitu? Atau emang sekarang secara ngga sadar kita sudah berevolusi jadi robot dengan segala macam runitas aktivitas kita dan berbagai macam “topeng” yang selalu kita pake?

Untuk bisa dapet tempat parkir disebuah Mall atau lewat gerbang jalan tol tanpa perlu bayar lagi? Cukup scan lengan?
Would you consider having microchips implanted in your body?
*kalo gue sih ogah!!!! Semoga gue tetep manusia ciptaan Tuhan…*

Next feature dalam chip itu akan dilengkapi dengan tekhnolgy GPS (Global Positioning System). Is it reminding you of something?? Kalo gue sih inget nya X-Man dimana di Prof. Xavier bisa melacak keberadaan mutant-mutant di seluruh dunia… hihihihihi

Atau next chip ber-GPS nya ditanem di badan anak sekolahan ajah.. biar ngga pada madol! Kalo pun madol kan ketauan tuh dimana ngabur nya…. wakakakakaka

Beware guys… it’s started already…
no need to wait for another 10 or 20 years later

And that is for real…
If you know what it’s mean…

                            

August 03, 2007

HOTSPOT = GRATIS???

Hs_logo_shadow Nongkrong sampe malem di Olala Café Thamrin semalem bareng adek gue and si beibeh, dimana adek gue asik mengutak-atik si putih gue dengan akses CBN hotspot yang (pastinya..) bayar, bikin gue jadi berpikir kenapa sih Jakarta tuh ngga kayak Bandung atau Jogja yang rasanya gampang banget nemu hotspot-hotspot gratis dimana-mana? Pengalaman di Jogja, even di angkringan pun lo bisa dapet hotspot gratis!!! Gosh!! Jadi pengen balik tinggal di Jogja rasanya… =P

Di blog ini, gue nemukan daftar tempat hotspot-hotspot gratis di Jakarta, yang kalo mau (lagi-lagi) dibandingkan Bandung dan Jogja, sangat minim banget ketersediannya. Daftar yang kurang valid juga kalo mau merujuk ke pengalaman gue “berkencan” dengan si putih sambil menggunakan layanan hotspot di tempat-tempat nongkrong di Jakarta (terutama seputar Jakarta Selatan). Beberapa di antara tempat-tempat nongkrong yang ada di dalam daftar itu - such as PS, PIM, PLangi, and Citos - adalah rata-rata berbayar dengan mengunakan layanan CBN atau Indosat. Selebihnya, kalau pun ada yang gratisan, fasilitas tersebut seperti kurang perawatan. Waktu gue balik lagi ke tempat dimana gue menemukan hotspot gratis itu, sinyal dari fasilitas itu lemah banget, ngga bisa diakses, atau bahkan hilang sama sekali, sehingga gue terpaksa mencari sinyal lain (yang berbayar… hueeeee…) atau yaaa melewatkan waktu tanpa akses internet… hiks… padahal udah menenteng-nenteng si putih…

Satu yang pasti sih, dari yang gue perhatiin, kalo sebuah tempat nongkrong punya layanan hotspot gratis, mereka lupa buat masarinnya atau setidaknya bikin pengumuman soal itu. Di beberapa tempat nongkrong yang menyediakan fasilitas hotspot gratis yang pernah gue temui – yang paling sering gue datengin adalah Amadeus – sering kali bahkan sebelum gue mengetahui bahwa di tempat itu tersedia jaringan hotspot gratis, gue sudah terlebih dahulu disodori daftar menu makanan… wakakakaka… dengan kata laen, mo hotspot gratis? kudu jajaaaaaan…. hihihihi =)

Untungnya masih punya PDA berfasilitas wifi, yang masih bisa nyari-nyari ada atau tidaknya jaringan wireless gratis sambil jalan-jalan tanpa harus mampir ke satu café. Pengguna notebook kan ngga akan mau repot-repot buka notebook cuma untuk mengetahui adanya jaringan wireless atau ngga.

Ribet nya lagi, kalo pas tiba-tiba dapet kabar soal email penting yang kudu segera ditangani, sementara lagi intenet-less karena ada di luar sana dan harus mencari-cari akses internet untuk menarik email tersebut. Dalam hal kepepet, gue lebih sering menggunakan jasa GPRS di PDA gue yang mengakibatkan tagihan telfon gue bikin syok di akhir bulan… mahal banget boooo!!!!! Atau agak sedikit repot masang kartu Fren di cdma gue untuk layanan data gerak.
*jadi beneran niat banget punya Blackberry secepatnya*

Sumpah! Sirik banget dengan anak-anak Bandung dengan Melsa Hotspot nya mereka. Jakarta boleh deh lebih maju and lebih gede, tapi untuk urusan per-hotspot-an gratis, kalah banget ma Bandung!!!! Huwaaaaaaa… =((

Di Jakarta, hotspot emang banyak… tapi yang gratis? sedikit!!!
Kapan ya penyedia jaringan hotspot Jakarta bisa murah hati kayak di Bandung or Jogja. Harusnya tuh hotspot gratis merupakan fasilitas yang jadi nilai tambah yang disediain ma penyedia tempat kepada pengunjung.

Dan harus nya emang, yang nama nya hotspot itu… Gratis!!!!
*ngarep*

Gambar di atas diambil dari situs ini.

July 18, 2007

iPhone Euphoria

Apple

(Photo: courtesy of Apple.com)

Hahahahahahahaha… =))

Maaf kalo openingnya gue ngakak dulu. Ternyata gue ngga bisa menahan diri untuk ngga menulis soal ini, karena akhirnya gue tulis juga! Wakakakakakaka…

Awal bulan kemaren, tepat setelah gue mendapatkan sebuah email dari Apple.com di dalam inbox gue dengan subject: “iPhone was here. It Yours”, ngga lama kemudian gue ngikutin sebuah thread yang panjang soal iPhone di id-mac. Thread yang penuh cerita, makian, celaan, sampe yang ngarep banget udah make iPhone dalam waktu secepatnya. Hahahaha… Hal – yang kalo mau liat di apple.com – mustahil banget, karena si iPhone yang fenomenal itu di locked sama AT&T (was Cingular) dan cuma bisa dipake di Amrik sono dengan kontrak minimal dua tahun! Dan Apple sendiri sudah menandatangani kontrak untuk locked itu dengan AT&T untuk jangka waktu 5 tahun!!! *gubraks*
So… ya ngimpi aja seh bisa pake tuh iPhone secepatnya, kecuali ada yang udah bisa unlocked tuh barang. Cuma rasa-rasanya sih ngga mungkin juga udah secepat itu bisa diunlocked, mengingat ke semua technology nya Apple yang sudah pernah direlease.

Lagi ketawa-tawa sendiri baca thread soal iPhone itu, tiba-tiba tanggal 9 Juli masuk sebuah email dengan subject: “[For Sale] Apple iPhone” di id-mac. Whaaat? Penasaran, langsung deh cepet-cepet dibaca. Ini nih isinya:

Hello fellow Mac enthusiasts,

In my most humble way, I would like to introduce the iPhones to all of you.

Kami hanya menyetok iPhones yang berkapasitas 8GB untuk sekarang ini, karena dengan
perbedaan hanya $100 tapi dapat double the capacity, 4GB compared to 8GB, kami merasa
8GB akan lebih popular, as it is in the States.

iPhones ini masih belum bisa digunakan di Indonesia sebagai telpon, tetapi dengar2 sudah
bisa di hack supaya bisa menyimpan lagu, photos, and movies (tolong di confirm apabila
sudah ada yang tahu).

Picture:
http://img255.imageshack.us/img255/8291/10iphonesww6.th.jpg

Price: Rp. 11,000,000 as is

Stock status: 2 units left. (akan di update sesuai datangnya stock baru)

Pre-order your unit at our store to ensure you get one.

Stock sangat terbatas sekali mengingat demand yang tinggi.

Terima kasih atas perhatian nya.

Best regards,

Erick Gani
Le Galleria
Apple Authorised Reseller
Mangga Dua Mall Lt. 3 No. 39 & Lt. 4 No. 2
Jakarta 10730
Indonesia
Telpon: (021) 30005475 / 76
Hp: 0812 11 888 11 / (021) 930 888 11

Opening soon at Paris Van Java, Bandung.

Sebuah email yang langsung dapet komentar panjang kali lebar dari anak-anak id-mac lainnya… Biasa laaaaah, ngga tahan buat ngga celometan. Belum selesai komentar-komentar itu reda, tiba-tiba masuk sebuah email lagi dari sender yang sama. Isinya :

Dear fellow Mac enthusiasts,

hehehe... terima kasih teman temin atas inputnya....saya mohon maaf apabila ada kata-
kata saya yang kurang berkenan...tapi sesungguhnya saya tidak ada maksud yang jelek...
mungkin bahasa indonesia saya yang kurang memadai... saya hanya penjual saja looking
for new opportunities.... answering to my survival instinct... hehehe...

anyway, stock iPhones sudah sold out for now. New shipment akan datang minggu depan.

thanks all!

Cheers,

Erick 

A****T!!!!! GOKIIIIIL!!!!!! SOLD OUT CUMA DALAM JANGKA WAKTU SEHARI!!!!

Makin panjang kan ya komen-komen itu ada di milis, sampe akhirnya si bapak moderator yang suka keselip dipanggil “mbak” itu ngamuk-ngamuk… wakakakakaka… soalnya jalur milis jadi rame banget cuma gara-gara komen-komen ngga penting itu! Banyak yang cuma one liner lagi… wahahahahaha…

Trus kenapa gue baru nulis soal ini sekarang? Gara-gara sabtu kemaren nongkrong di Batagor Riri (lagi di Bandung ceritanyaaaa….), gue nemu free newspaper yang ada disitu dan ngereview soal iPhone! Sebuah artikel yang sangat ngga penting banget! (tapi gue baca juga.. dodol kan! wakakakaka…), soalnya artikel itu ditulis dalam bahasa Inggris (ntah ngopi dari mana… soalnya Koran itu berbahasa Indonesia…), dan tetep aja itu iPhone ngga bisa dipake di Indo!!! Langsung deh semua cerita soal iPhone yang ada di milis crossing my mind again and again, bahkan sampe gue nulis posting ini. Udah mau nulis dari kemaren-kemaren, tapi otak buntu gara-gara dateline satu agreement.

Satu hal yang masih ngga lepas dari pikiran gue, setelah baca thread soal iPhone yang dijual di id-mac itu dan langsung sold out dalam waktu sehari. Yang gue pikir adalah orang-orang gila gadget mana yang beli tuh iPhone-iPhone? Secara useless juga di Indo. Ga bisa dipake buat nelfon, buat sms, iPod function nya juga diragukan buat jalan.. wong aktivasi nya kudu pake sim card AT&T. Jadi buat apa? Masak buat photo-photo doang? Lagian kalo cuma sekedar buat nyimpen photo,lagu n movie ada iPod 80 Gigs gitu looooooooh yang harga nya juga ngga nyampe 4 jt. Kalo gue sih, untuk 11 juta, mending tuker MacBook generasi baru deeeeeh ngegantiin MacBook gue sekarang… hihihihi
Orang-orang Indo banyak yang tajir ternyata… atau menang gegayaan doang tapi gaptek? Kayak banyak yang pake Communicator atau hape batubata yang baru keluar dengan harga 14 juta itu, tapi cuma buat telfon ma sms… hahahahahaha =)

iPhone… iPhone…
Bisa sebegitunya seeeh kehadiran lo…
Gue sih untuk sementara menunggu harga Blackberry Curve mereda deh… lebih rasional kayaknya… qiqiqiqiqiqiqi =P
*ngimpi juga punya iPhone*

Oh iya, kemaren dikirimin link gambar-gambar cartoons lucu gara-gara iPhone (www.cagle.msnbc.com/news/iPhone) yang nyindir banget kelakuan orang-orang Amrik sono pas peluncuran iPhone. Ada beberapa gambar yang gue ambil, trus gue gabung di ComicLife… (aaaaah senengnya pake Mac… =P )


Page_1

May 10, 2007

Makin Cinta pake Mac!

Setelah membaca thread yang panjang mengenai batere di id-Mac, gue jadi tergelitik untuk ngecheck performa batere macbook gue di sistem profiler….  Dan ini lah hasilnya:

Batere_beforeJadi inget disalah satu email nya salah satu suhu Mac yang bilang kalo salah satu ciri batere yang sehat adalah yang Full Charge Capacity adalah kurang lebih 5400 mAh.
Nah lhooooo… punya gue ga nyampe segituuuuuu… Padahal udah batere update kemaren ke v1.2.
*mulai panik*

Trus jadi inget lagi di salah satu email yang bilang kalo Mac Data Service lagi mengadakan layanan ganti batere untuk MacBook dan MacBook Pro yang dibeli mulai Agutus 2006…
Hmmmm… jadi pengen nelfon ke Mac Data Service, seengga-engga nya biar ga penasaran gituuuuu… Maka jadilah hari Rabu tanggal 9 Mei kemaren gue telp kesana dan diterima dengan baik oleh seorang Mbak bernama Mila. Sedikit brief dari gue mengenai batere gue, tiba-tiba jawaban dari Mbak Mila sangat mengejutkan… “Iya Mbak, batere nya kita ganti”. Padahal tapi kalo dipikir-pikir lagi performa batere gue oke kok… kalo dicharge masih bisa full sampe 100%, di pake mulai dari full tanpa batere masih bisa tahan sampe 4 jam, dan menurut iStat Pro (dan coconut juga) batere health gue masih 91%. Dan udah 6 bulan juga pake dengan intensitas lebih dari 10 jam sehari, which is dalam sehari bisa 2 kali bolak balik ngecharge, atau kalo pun ga ngecharge lagi batere nya gue pantengin kecolok meskipun indicator lampunya sudah berubah dari oranye menjadi hijau alias sudah 100 %.

Tapi batere gue tetep dicatat untuk diganti… horeeeeeee…
Gue cukup meninggalkan serial number MacBook dan no hape ke Mbak Mila karena batere gue kudu pesen dulu ke AppleStore S’pore (katanya siiiih…).

Selasa pagi kemaren, gue ditelfon sama Mbak Mila yang mengabarkan kalo batere pesenan gue udah ada dan siap untuk ditukar. Barusan meluncur ke bilangan Glodok untuk mengambil batere pesenan gue itu. Gratissss!!!!

Dan sekarang, ini lah performance batere gue (menurut system profiler):

Batere_baruDuuuuh senengnyaaaaaaaa..
Sekarang, dengan batere yang sehat dan diwarranty sampe 2 tahun serta Applecare yang bikin MacBook gue diwarranty sampe 3 tahun, gue makin cinta sama mac gue!!!!

February 21, 2007

… hanya memilih yang agak berbeda, salah ya?

Semalam, pada saat sedang menunggu lift di kantor, seorang rekan kerja yang kebetulan berpapasan dengan gue terbengong-bengong melihat “bawaan” gue; tas laptop berisi macbook putih kesayangan gue terselempang di bahu kanan gue, kuping terpasang earphone yang sedang mendengarkan lagu favorite gue lewat iPod, bahu kiri gue tersandar tas kerja gue, dan kedua tangan gue lagi asik mengutak-atik PDA phone. Melihat itu spontan rekan kerja itu gue berkomentar “typical cewek banget sih lo…”. Gue menoleh dengan pandangan ga ngerti, yang kemudian dilanjutkan sama rekan kerja gue itu dengan komentar “… ribet!”. Heh? Maksudnya?? Pengen ngedebat, apa daya lift gue udah keburu terbuka dan menyuruh gue untuk segera turun ke bawah.

Pernah juga, beberapa minggu yang lalu, pada saat gue lagi nongkrong di resto favorite gue di salah satu tempat nongkrong di selatan Jakarta yang kebetulan menyediakan jaringan wireless gratis, bertemu dengan seorang teman yang terheran-heran melihat kegiatan gue saat itu; asik mengutak-atik macbook gue (kaaaan ada wireless gratis yaaaks… hehe), sambil mendengarkan lagu-lagu dari iPod, sementara di samping macbook gue tercolok PDA phone gue lewat kabel data yang kebetulan lagi gue synchronize. Teman gue itu segera menginterupt kegiatan gue dengan komentar “Lo kayak cowok aja!”. Seketika kegiatan gue berhenti. Pengen ngedebat, tapi speechless. Merasa sayang meninggalkan kegiatan asik gue hanya untuk berdebat kusir yang ngga penting. Jadi lah pada waktu itu reaksi gue hanya tersenyum.

Barusan, chating di YM dengan seorang teman yang tinggal di luar sana, mengeluh lagi punya sedikit masalah dengan GF-nya. Ketika ditanya kenapa, jawaban yang keluar adalah”… biasa ceweksensitif!” Lagi-lagi pengen ngedebat, sayangnya keburu dipanggil petinggi. Jadi lah dia gue tinggalkan dengan pertanyaan, “emang yang sensitif cewek doang, emang cowok ngga boleh sensitif, emang cowok sensitif identik dengan banci?”

Hmmmmm… Jadi inget salah satu tulisan seorang teman di blognya : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com/

Tak ada yang sadar atas keberadaan sebuah absurditas telanjang yang disodorkan oleh kenyataan pemuda “A”; ambiguitas dan inkonsistensi pilihan antara pernyataan pertama bahwa warna hitam adalah jantan, versus ketidakpraktisan pada pernyataan berikutnya sebagai sesuatu hal yang kewanitaan. Aneh? Ah, siapa bilang. Buktinya semua tertawa. Kebenaran mayoritas.

Tapi apa iya; jenis kelamin ditentukan oleh pilihan warna, atau pilihan sikap yang praktis versus yang ribet? Atau tingkat kebawelan? Atau apakah elo seorang yang sensitif dan berempati atau tidak? Atau gimana cara elo menyetir mobil/motor? Atau mungkin cara kita melangkahkan kaki?

Bagaimana dengan operasi penggantian kelamin yang mahal dan kontroversial itu? Bagaimana dengan mereka yang sudah “menyimpang” secara fisik sejak lahir (baca: banci, bences, waria), atau mereka yang menyimpang secara mental psikologis akibat pengaruh lingkungan? (baca: kemayu, tomboy, maskulin, feminim, etc), maupun mereka yang mengalami gejala homosexualitas?

Sebenarnya tanpa kita sadari, banyak hal berupa “mitos”, yang diterima dan dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersifat umum – dan mengikat, tentunya.


Penilaian sosial?? Might be… Kesimpulan yang bisa gue ambil kalo inget kejadian itu adalah kalo ribet itu identik dengan cewek, dan kegiatan mengutak-atik gadget itu adalah cowok banget! Emang cewek ngga boleh tanggap technology? And sapa bilang cuma cewek yang gaptek? Ada kok cowok-cowok yang gue kenal juga gaptek. Kalo misalnya ditanya alasannya, jawabannya pasti “ngga mau ribet.. kayak cewek aja…”. Eh?? Lagi-lagi ribet identik dengan cewek.

Minggu kemaren, pas lagi iseng blog walking ke salah satu blog yang diacu sama seorang teman, gue menemukan tulisan ini : http://ionosfer.multiply.com/journal

Jika scope nya diperkecil, seperti kali lain kawanku berujar “Ooo…pantes....orang Jawa”. Celotehan yang terlontar dari satu kelakuan saja –katakan, kalau minum teh harus manis dan Kenthal–, telah membawa keseluruhan sifat Jawa di-cap ke jidatku:Plek, komplit!. Padahal aku tak pernah tinggal di jawa lebih lama dari satu minggu. Dari puluhan juta suku jawa dengan keanekaragamannya, rasanya hanya sampai 25% sifat sifat Jawa yang menempel didiriku.


Aaaaah… jadi inget kalo makan bareng teman-teman di restoran yang kebetulan menyedikan lalapan dan sambel. Dan ketika melihat gue mengambil lalapan-lalapan dan sambal-sambal dengan porsi yang sedikit lebih banyak dari yang mereka pikirkan, seketika sebuah cap melekat didiri gue… “sunda bangeeeeet…”. Padahal, seperti juga Mas Ionosfer, gue ga pernah tinggal lebih dari dua minggu di daerah kelahiran nyokap bokap gue itu. Dan, seperti juga Mas Ionosfer, rasanya ga sampe 25% sifat ke-sunda-an yang menempel pada gue, meskipun langsung atau pun tidak gue dibesarkan dengan adat istiadat sunda.

*FYI, gue lahir dan gede di kota Palembang yang rasanya jauh sekali atmosfer lingkungannya dengan Sunda.* 

Tapi, well ya itu dia tadi… penilaian sosial yang berbicara. Ketika orang tua gue yang berdarah Sunda, orang-orang sekeliling gue mahfum akan kesukaan gue pada lalapan dan sambel, dan itu adalah sangat wajar. It’s already run in the blood!!!... gue, sunda banget, hanya karena makanan?????????

*Padahal kan gue juga penggila sushi… tapi kenapa ga ada yang bilang kalo gue Jepang banget… =P malah beberapa ada yang bilang, lo kan orang Sunda kok doyan sushi sih?*


Dan karena penilaian sosial lah yang membuat nyokap gue, pada waktu gue masih sekitar kelas dua atau tiga SD, dengan sigap mendaftarkan diri gue ke sebuah sanggar yang mengajarkan tari-tarian dan modelling dan memaksa gue untuk selalu datang kesana setiap minggunya, pada waktu menemukan kenyataan bahwa gue lebih menyukai kemana-mana pergi dengan pedang-pedangan gue ketimbang menyeret-nyeret boneka beruang.

Atau lain waktu, ada seorang teman yang curhat masalah pacar… (biasa deeeeeh…). Ketika sampai pada masalah kejelekan si cowok, tiba-tiba seorang teman lainnya bilang “cowok lo Aries kan,… pantes aja kelakuannya begitu!” Huh? Ada lagi neh penilaian sosial dengan cara begini. Ketika seorang yang agak sedikit suka tebar pesona pasti bintang nya aries, atau pun ketika ada seseorang yang selalu penuh pertimbangan identik dengan bintang Libra. Padahal, ada berjuta-juta orang-orang berbintang Aries atau pun Libra di dunia ini, apakah harus selalu dengan sifat-sifat yang sama? Bukankah karakter itu hasil pembentukan lingkungan dan bagaimana cara dia dididik? Bisa aja dong ada orang yang suka tebar pesona juga tapi bintang nya Aquarius, atau malah Libra… and vice versa, seseorang yang penuh pertimbangan tapi berbintang Scorpio atau malah Aries juga…
*garuk-garuk kepala karena bingung*

Penilaian sosial seperti yang gue jabarkan di atas tadi, hanya terjadi di Indonesia atau juga menjadi penting di negara lain ya??... Dengan segala penilaian yang ada: ribet, sensitif dan maen boneka adalah identik dengan kaum perempuan, versus masalah praktis, pedang-pedangan dan segala hal yang berbau tekhnologi diperuntukan bagi kaum laki-laki; kesukaan dengan makanan-makanan tertentu identik dengan salah satu suku; atau tebar pesona itu adalah orang Aries dan penuh pertimbangan adalah Libra.

Padahal, itu adalah sebuah pilihan.

Dan ketika, sebuah pilihan datang pada  gue, dan pilihan itu agak berbeda dari orang-orang kebanyakan - sama seperti pilihan soal melajang - selalu akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang buat gue ngga penting buat gue jawab. Contoh, ketika gue lebih memilih menggunakan macintosh ketimbang menggunakan “jendela”, ketika gue lebih tertarik dengan artikel kapan Leopard akan launching ketimbang artikel kapan Vista akan launching, ketika gue memilih makan sushi ketimbang makan nasi liwet (baca: elo kan orang Sunda, kok doyan sushi sih?), ketika gue ternyata kok ga kayak orang yang berbintang Libra, ketika gue lebih suka mengutak-atik gadget ketimbang masak, atau ketika gue lebih memilih makan di restoran sebelah sana yang rada sepi ketimbang di restoran yang ramai dikunjungi orang hanya karena ada persepsi sosial bahwa restoran yang ramai pasti makanannya enak…

Anyway, itu semua adalah pilihan… Kenapa sih selalu ada pertanyaan atas pilihan-pilihan, ketika pilihan itu berbeda dari orang kebanyakan.
Seperti kata Mas TLT “Sebenarnya tanpa kita sadari, banyak hal berupa “mitos”, yang diterima dan dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersifat umum – dan mengikat, tentunya.”

Dan ketika semua pertanyaan-pertanyaan itu dibalikarahkan menjadi, emang salah ya kalo gue lebih suka menggunakan mac, emang salah ya kalo gue suka sushi, emang salah ya kalo gue suka utak-atik gadget, emang salah ya kalo gue belum menikah??? Bisa tebak jawabannya??? Ini nih….”Yaaaa… ngga salah siiih…” Laaaaah, emang ngga ada yang salah dengan sebuah pilihan atas sesuatu di luar orang-orang kebanyakan. Lain hal ketika lo memutuskan untuk memakai narkoba. Itu sih jelas salah! Di kasus gue, toh kesukaan gue makan sushi ngga menghilangkan darah gue yang keturunan sunda, atau kegilaan gue pada gadget ngga menghapus identitas gue sebagai cewek, atau sifat gue yang rada keras kepala ngga mengubah bintang gue dari Libra menjadi Leo.

Jadi, ketika pilihan gue sedikit berbeda dengan orang kebanyakan,… ngga salah kan?
Justru gue lebih merasa punya “identitas”… unique! hehehehehehehe...
Berani tampil beda???

Some people think that the physical things, define what's within
I've been there before, but that life's a bore
So full of the superficial
(If I Ain’t Got You – Alicia Keys)